Vaksin palsuIstilah vaksin palsu atau obat palsu tentu membuat masyarakat, khususnya orang tua, cemas luar biasa. Kami pun sebagai tenaga medis yang melakukannya merasa khawatir…. Khawatir kalau kami ikut berperan dalam menyuntikkannya.

Tetapi, bila kita kaji dan pelajari kandungan yang dipakai pada vaksin palsu, maka ada beberapa yang dapat kita cermati. Pertama, cairan infus adalah cairan yang biasa dipakai bila kami merawat anak yang sakit. Lalu, gentamicin adalah antibiotik yang dipakai bila bayi terserang kuman atau bakteri golongan tertentu. Yang melegakan adalah, pada vaksin palsu tidak ada kandungan yang berbahaya untuk kesehatan bayi.

Mengenai cara pembuatannya yang mungkin tidak steril, memang dapat membuat infeksi. Bila ada reaksi infeksi, mungkin sudah terjadi beberapa hari setelah dilakukannya vaksinasi.

Kalau benar vaksin palsu sudah beredar sejak tahun 2003, maka harusnya banyak penyakit yang dicakup oleh vaksin palsu, ya…. Yang mungkin harus diamati adalah adanya beberapa penyakit berikut:

  • Difteri. Gejalanya radang tenggorokan dengan membran putih di dalam tenggorokan.
  • Pertusis. Batuk 100 hari yang bunyinya khas dan berbahaya bila terjadi pada bayi.
  • Tetanus. Kejang khas tanpa disertai demam dan penderita biasanya saat kejang sadar. Penderita tetanus biasanya mempunyai riwayat luka dan dari luka itulah kuman tetanus masuk kedalam tubuh mengakibatkan penyakit tetanus .
  •  Polio, adalah penyakit lumpuh layu yang dapat terjadi pada bayi. Vaksin DPT HIB POLIO  harganya mahal dan banyak orang tua mencari vaksin yang tidak membuat anak mengalami demam, yaitu Pediacel dan Tripacel, yang menurut surat edaran Menteri Kesehatan juga dipalsukan.
  • Hepatitis A. Penularannya melalui makanan, sementara penyakit yang ditimbulkan adalah penyakit kuning.
  • Hepatitis B. Ini lebih mudah dibuktikan, karena setelah vaksinasi  Hepatitis B yang ke-3, kita bisa mengambil sampel darah bayi dan melihat titer antibodinya dengan memeriksa anti-HBs. Saya pernah menemukan beberapa kasus yang kebetulan keluarganya karier Hepatitis B dan memeriksa kadar anti-HBs-nya setelah dilakukan vaksinasi, ternyata negatif. Tetapi setelah vaksin diulang sebanyak 3 kali, titer antibodinya timbul. Titer antibodi adalah kadar atau jumlah zat kekebalan yang  terbentuk setelah dilakukan vaksinasi.

Banyak orang tua yang resah, ingin mengulang memvaksin anaknya. Boleh-boleh saja. Namun, agar tidak harus diulang semuanya, kita perlu meneliti label vaksin. Diskusikan hal ini dengan dokter anak yang akan memberikan vakinasi ulangan.

Bila ragu atau wujud vaksin tampak berbeda, ada baiknya kita lakukan vaksin ulang saja. Karena, prinsip dasar vaksinasi adalah: boleh lebih, tapi kalau kurang atau tidak dilakukan pemberian vaksin maka anak tidak punya antibodi.

Untuk anak-anak yang memang harus mengulang vaksinasi booster-nya sebaiknya mendapat perhatian dari orang tua. Karena, banyak sekali orang tua yang lupa mengulangnya di usia 5 dan 10 tahun. Demikian pula vaksinasi MMR2 di usia anak 6 tahun, sebaiknya diulang, untuk memaksimalkan antibodi terhadap penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi. Keberadaan vaksin DPT polio (Tripacel) dan MMR yang dipakai untuk mengulang vaksinasi saat ini masih sulit didapatkan. Dengan kejadian vaksin palsu orang tua sebaiknya sabar menunggu antrian yang telah dilakukan banyak rumah sakit yang akan menghubungi para orang tua bila vaksin telah tersedia dari distributor resmi.

Pelaku dan penyebar vaksin palsu ini tentu harus ditindak tegas. Saya mendukung pernyataan Menkes Ibu Nila Moeloek bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kalau memang ragu akan vaksin yg diberikan, lebih baik kita ulang saja. Itu solusi terbaik buat anak-anak kita.

dr. Tiwi, SpA, MARS

Share
Leave a Reply