Data Mutu RSIA Bunda Jakarta

PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN DI RSIA BUNDA JAKARTA

Pendahuluan

Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda Jakarta yang cikal bakalnya sudah berdiri sejak tahun 1973, kemudian dengan berkembangnya usaha dari rumah bersalin sudah menjelma menjadi beberapa rumah sakit di Jakarta, Depok, Padang dan perkembangan klinik Fertilitas Morula sudah ada di Surabaya, Padang, Depok selain Jakarta tentunya. Sesuai dengan Visi Perusahaan Leading HospitalWith Innovation dan kemudian dijabarkan dalam visi masing – masing unit usaha.

Di era globalisasi perkembangan ilmu dan teknologi sangatlah pesat termasuk didalamnya teknologi kedokteran. Dengan ditemukannya peralatan kedokteran dan obat – obatan baru tentunya berdampak kepada pelayanan kesehatan dan ini tentunya berbeda dengan kondisi masa lalu dimana pelayanan keseatan sangatlah sederhana, sehingga resiko yang diakibatkannya juga bertambah juga. Sebagai institusi pelayanan jasa yang komplek rumah sakit harus berusaha terus menerus menyesuaikan diri dengan perembangan ilmu dan teknologi tersebut, meningkatkan kualitas pelayanan baik pelayanan medis maupun nonmedis.

Sesuai dengan visi RSIA. Bunda Jakarta adalah menjadi rumah sakit terdepan pada pelayanan kesehatan swasta dalam bidang Ibu dan Anak di Indonesia khususya Jakarta dengan pelayanan berkualitas tinggi. Untuk mencapai visi dibuatlah misi rumah sakit.

Mengupayakan pelayanan berkualitas dengan memperhatikan keselamatan pasien. Untuk itu perludidukung oleh tenaga yang professional dan terlatih tanpa meninggalkan teknologi terkini dengan tujuan inilah RSIA Bunda Jakarta membuat program peningkatan mutu dan keselamatan pasien yang sejalan dengan rencana setrategi rumah sakit.

Upaya peningkatan mutu dituangkan dalam 11 kreteria baik bunda yaitu: berpengetahuan, keterampilan, produktif dan efektif, bersemangat, disiplin, jujur, bekerjasama, bertanggung jawab, inovasi, kepemimpinan dan loyalitas. Motto dari rumah sakit RSIA adalah advancad inovatio,advanced you dalam pelayanan kesehatan di setiap industri, kadang-kadang beberapa hal berjalan tidak semestinya. Peralatan dapat gagal, sistem dapat membuktikan adanya pernyataan yang salah dan tidak adekuat. Secara beberapa kasus, insiden-insiden serius yang terjadi mungkin dapat dicegah dan beberapa mengakibatkan bahaya yang serius pada pasien. Sebagian besar insiden-insiden ini bukanlah hasil dari kegiatan dari seseorang, tetapi lebih sering merupakan akibat rangkaian kejadian-kejadian.

Pencegahan kesalahan tergantung dari identifikasi kekurangan-kekurangan dalam urutan kejadian dan menetapkan masalah-masalah. Penting untuk menangkap semua informasi yang relevan dengan insiden, investigasi semua penyebab yang diketahui dan menentukan tindakan untuk melindungi pasien-pasien dari berulangnya kejadian tersebut.

Sesuai dengan visinya menjadikan rumah sakit terdepan pada pelayanan keshatan swasta  dalam bidang ibu dan anak di Indonesia kususnya Jakarta dengan pelayaan berkulitas,sebuah Rencana Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien. Rencana ini melibatkan multidisiplin, kerangka kinerja yang sistematik untuk meningkatkanpasien outcome dan mengurangi  dan atau  mengeliminasi risiko-risiko pada pasien dan staf.

Rencana Mutu dan Keselamatan Pasien ini memberikan kerangka bagi RSIA Bunda Jakarta,  untuk mengimplementasikan kegiatan-kegiatan peningkatan kinerja mutu.Kegiatan-kegiatan ini meningkatkan pasien outcome, dan keselamatan pasien secara komprehensif, metodis dan sistematis.

I. INDIKATOR AREA MENEJEMEN

1. Pengadaan Supplai Serta Obat-Obatan Penting Bagi Pasien Yang Dibutuhkan Secara Rutin

Analisis: masih ada terjadi stok obat obatan yang kosong di farmasi coporate,masih di bawah standar

Action plan : evaluasi jumlah stok di gudang koorporate dan unit usaha

Memantau lead time proses pengiriman barang

Menaikan titik ROP (Reorder point )sehingga datang tepat waktu

 

2. Pelaporan  Kegiatan  Seperti  Diatur  Oleh  Undang – Undang Dan Peraturan

Analisis: sudah mencapai target mutu yang sudah bagus di pertahankan

3. Manajemen Utilisasi

Analisis: dapat di lihat dari jumlah tindakan pembadahan LO,perlu peningkataan dari jumlah yang ada,percapaian yang sudah ada baru mencapai 50 %

Action plan : Pelakukan pendekatan ke dokter spesialis danb ke pasien bahawa tindakan pembedaha dengan metode LO,akan lebih mengurangi resiko perdarahan,nyeri dan lika invasive yang lebih kecil,lama rawat juga minimal.

4. Harapan Dan Kepuasan Pasien Dan Keluarga Pasien

Analisis: kepuasan pelangan dan pasien mencapai target yang sudah di tetapkan,pertahankan

5. Harapan Dan Kepuasan Staf

Analisis: masih ada beberapa staf yang mengundurkan diri,diterima PNS atau pindah tugas ikut suami

6. Manajemen Keuangan

Analisis:permutaan obat obatan masih dibawah standar dipengaruhi dari stok dengan fast  moving

Action plan:barang barang dengan katagori slow moving ( evaluasi bertahap)

7. Pencegahan Dan Pengendalian Peristiwa Yang Membahayakan Keselamatan Pasien, Keluarga Pasien, Dan Staf

Analisis: masih di temukan pembuangan jarum tidak pada tempatnya di beberapa arena unit pelayanan,masih di bawah standar

Action plan : tingkatkan budaya “ pembuangan jarum pada tempatnya safety box “ oleh seluruh staf  medis

INDIKATOR AREA KLINIS

1. Asesmen Pasien

Analisis: Kelengkapan asesmen awal keperawatan mengalami kenaikan setiap bulannya, tetapi pada bulan Oktober mengalami penurunan.

2. Layanan Laboratorium

3. Pelayanan Radiologi dan Pencitraan Diagnostik

Analisis: Waktu tunggu pemeriksaan Thorax selalu tercapai.

 

4. Prosedur Bedah

Analisis: Masih ditemukan alat/perlak yang tidak steril, kedisiplinan cuci tangan masih kurang, linen yang belum terstandar

Action Plan : Tidak menggunakan perlak dan menggantikannya dengan linen steril meningkatkan kesadaran cuci tangan Standarisasi linen yang digunakan

 

5. Penggunaan Antibiotik dan Obat-Obatan Lain

Analisis: Akar masalah tidak semua tindakan operasi diberikan antibiotik profilaksis

Action Plan : Pendekatan kepada dokter bedah atau DPJP

6. Kejadian Salah Obat dan Near Miss

Analisis: akar masalah masih ada beberapa dokter yang tidak menuliskan dosis obat dalam resep

Action Plan : pendekatan dengan dokter agar menuliskan resep dengan lengkap oleh apoteker

7. Penggunaan Anestesi dan Sedasi

Analisis: Terjadinya peningkatan capaian setiap bulannya tetapi pada bulan oktober mengalami penurunan dari 96,45% menjadi 73,40%.

Akar masalah kurangnya kedisiplinan dokter spesialis anastesi dalam mengisi pengkajian pre anastesi. Action plannya melakukan pendekatan kepada dokter spesialis anastesi oleh kabid medik.

8. Kelengkapan Pengisian Resume Saat Pasien Pulang

Analisis: Terjadi peningkatan pada pencapaian setiap bulannya. Tetapi angka pencapaiannya masih di bawah standar.

Action plan : pendekatan kepada dokter DPJP oleh Kabid Medik

II.Indikator Sasaran Keselamatan Pasien

1. Mengidentifikasi Pasien Dengan Benar

Analisis: Terjadi peningkatan kepatuhan identifikasi dengan benar.

2. Meningkatkan Komunikasi Yang Efektif

Analisis: kepatuhan dokter memberikan verifikasi pada instruksi lisan yang dituliskan di berkas rekam medis selalu memenuhi standar

3. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai (High Alert)

Analisis: penyimpanan obat high allert terlihat tren peningkatan yang signifikan

4. Kepastian tepat Lokasi, Tepat prosedur, Tepat Pasien Operasi

Analisis: tingkat kepatuhan tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien pada operasi selalu benar, tidak ditemukan kesalahan dalam prosedur operasi

5. Mengurangi Resiko Infeksi Akibat Perawatan Kesehatan

Analisis: dari tingkat kepatuhan cuci tangan, masih perlu ditingkatkan

Action plan :

-Melakukan briefing setiap pergantian shift pagi ke shift sore,shift sore ke shift

malam,shiftmalam ke shift pagi untuk melakukan cuci tangan dan pada saat hand over

ke kamar pasien

– Melakukan pengawasan dan pemantauan secara kontinyu terhadap perawat pelaksana

dalam melakukan cuci tangan