RS Bunda Group

RS Bunda Group

Berita & Artikel

  • Beranda
  • Aneurisma Otak: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Aneurisma Otak: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

aneurisma-otak-penyebab-gejala-dan-pengobatannya-rs-bunda-group

Aneurisma otak adalah pembesaran atau penonjolan pembuluh darah otak akibat melemahnya dinding pembuluh darah. Penonjolan ini akan terlihat seperti buah berry yang menggantung. Ketika pembesaran tersebut pecah atau mengalami kebocoran, akan terjadi perdarahan selama beberapa detik. Meski hanya sebentar, bocoran darah bisa menyebabkan kerusakan pada sel di sekitarnya, bahkan membunuh sel lain.

Baca Juga: RSM Oncology untuk Penyintas Kanker

Aneurisma otak yang membesar dan pecah bisa menyebabkan perdarahan dan kerusakan otak. Jika terjadi pada batang otak, aneurisma otak bisa menyebabkan terjadinya stroke batang otak. Aneurisma otak dapat menyerang siapapun, namun wanita berusia 40 tahun ke atas sering menjadi penderita penyakit ini Otak merupakan organ paling penting pada tubuh manusia dan memerlukan perlindungan maksimal. Jika Anda merasakan hal-hal ganjal dari otak Anda, segera reservasikan diri Anda untuk pemeriksaan di RSM Oncology RSU Bunda Jakarta.

Penyebab Aneurisma Otak dan Faktor Risikonya

Penyakit ini terjadi karena pelemahan dinding pembuluh darah di bagian otak, sehingga terjadi penggelembungan berbentuk seperti balon. Hal ini terjadi ketika aliran darah menekan dinding pembuluh darah, kemudian muncul gejala. Pembuluh darah penderita bisa pecah jika tidak segera menerima penanganan dan menjadi perdarahan subarachnoid.

Penyebab pelemahan dinding pembuluh ini tidak diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor risiko yang memperparah kondisi tersebut. Pertama, faktor usia, orang berusia di atas 40 tahun mengalami peningkatan risiko aneurisma, karena pertambahan usia menyebabkan dinding pembuluh melemah. Kemampuan regenerasi sel dan jaringan akan melambat seiring pertambahan usia, inilah alasan lansia sangat rentan terkena berbagai penyakit. Itulah mengapa, meskipun sudah berumur, semua orang wajib menjaga kesehatan.

Kedua, hipertensi atau tekanan darah tinggi, ketika terjadi hipertensi tekanan pada dinding pembuluh semakin kuat akibat aliran darah serta tekanannya meningkat. Sebaiknya hindari pemicu hipertensi seperti makanan berlemak dan asin.

Ketiga, apabila Anda pernah mengalami cedera di bagian otak atau kepala maka risiko terjadi aneurisma otak juga ikut meningkat. Berbagai benturan dengan benda tumpul pada kepala dapat menyebabkan cederea otak.

Keempat, kecanduan atau konsumsi alkohol secara berlebihan akan meningkatkan tekanan darah pemicu penyakit hipertensi. Seperti penjelasan sebelumnya, hipertensi akan menyebabkan tekanan pada dinding pembuluh, hingga stroke dan aterosklerosis.

Kelima, jenis kelamin juga mempengaruhi tingkat faktor risiko. Aneurisme otak lebih sering menyerang pasien berjenis kelamin wanita daripada pria karena pelemahan elastisitas pembuluh darah akibat penurunan hormon estrogen.

Wanita yang sudah mengalami menopause maka produksi hormon estrogen semakin menurun. Faktor usia yang semakin bertambah bukanlah hal yang dapat Anda hindari, oleh karena itu penting untuk memiliki gaya hidup sehat. Perawatan untuk aneurisma bisa berbeda-beda tergantung lokasi, tingkat keparahan, ukuran, serta kondisi (sudah pecah, bocor, atau tidak). Untuk meredakan sakit kepala dan sakit mata, Anda dapat mengonsumsi obat nyeri. Apabila letak pembesaran masih terjangkau, maka proses pembedahan dapat memotong atau memperbaiki aliran darah untuk mencegah pertambahan ukuran, pecah, atau kebocoran.

Gejala Aneurisma Otak

Sebagian besar penyakit aneurisma di otak yang tidak bocor atau pecah akan menimbulkan gangguan kesehatan penderita. Penyakit ini sering terdeteksi ketika sedang melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan lainnya.

Untuk mengantisipasi, ada beberapa gejala utama yang perlu Anda perhatikan, seperti pusing, mengalami nyeri pada wilayah sekitar mata, keseimbangan tubuh terganggu, kesulitan berbicara, sulit berkonsentrasi, penurunan daya ingat, gangguan penglihatan, serta kelopak mata turun. Ketika kondisinya semakin parah, misalnya mengalami kebocoran darah yang mengakibatkan pusing secara tiba-tiba, gelembung berisiko pecah. Ketika pecah, gejalanya akan berbeda dengan sebelumnya.

Salah satu gejala aneurisma otak adalah mual hingga muntah, kaku pada bagian leher, kejang-kejang, lumpuh pada salah satu sisi badan, hingga sakit kepala hebat. Serta penglihatan terasa kabur atau terganggu. Saat pemeriksaan, dokter akan memulai diagonsis dengan menanyakan informasi gejala, riwayat penyakit pribadi dan keluarga. Kebiasaan Anda juga menjadi bagian dari pertanyaan. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah langkah untuk mengkonfirmasi diagnosis, misalnya CT Scan.

Ketika melakukan CT Scan, pasien akan berbaring kemudian diberi zat kontras untuk membantu melihat gambar pembuluh darah. Kemudian, terdapat pemeriksaan MRI, mirip dengan CT Scan, di mana pasien akan berbaring untuk melihat gambar pembuluh darahnya. Aneurisma berukuran 3-5 mm dapat dideteksi menggunakan pemeriksaan CT Scan dan MRI.

Tenaga medis juga bisa mengetahui titik lemah pada pembuluh dengna menggunakan angiogram. Pasien akan diberikan bius kemudian dokter akan memasukkan sejenis selang melalui kaki sampai kepala. Pemeriksaan penunjang lainnya yaitu pemeriksaan cairan Serebrospinal (tulang belakang), yang akan dokter ambil menggunakan jarum khusus. Proses ini dilakukan agar tanda perdarahan terlihat, dalam prosesnya bisa juga tidak terlihat.

Baca Juga: Terapi Kanker Lebih Mudah dan Nyaman dengan Pemasangan Chemoport

Jika terjadi gejala-gejala aneurisma otak, Anda harus langsung memeriksakannya ke unit medis terdekat. Untuk mendapatkan layanan tersebut, Anda bisa reservasi terlebih dahulu di RSM Oncology RSU Bunda Jakarta. Ketahui jadwal dokter di unit-unit RS Bunda Group sekitar Anda dan reservasi kunjungan Anda di sini. Kunjungi juga laman informasi kami untuk menemukan layanan-layanan kesehatan lainnya.

Bagikan Artikel Ini: