RS Bunda Group

Bunda Hospital Group

News & Articles

  • Home
  • Penyakit Invaginasi – Kenali Gejala, Penyebab, dan Kapan Harus Ke Dokter

Penyakit Invaginasi – Kenali Gejala, Penyebab, dan Kapan Harus Ke Dokter

Penyakit Invaginasi - Kenali gejala, penyebab, dan kapan harus ke dokter

Invaginasi usus merupakan penyakit yang cukup asing atau tidak sering didengar. Namun kondisi ini cukup banyak ditemukan, khususnya pada anak. Penting untuk dapat mengetahui gejala awal invaginasi usus agar dapat segera memperoleh penanganan sebelum terjadi komplikasi.

Invaginasi atau yang dapat disebut juga dengan intususepsi merupakan kondisi medis dimana bagian dari usus masuk atau terlipat ke dalam bagian usus lain. Kondisi usus tersebut seperi teleskop yang ditutup.

Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis dan memerlukan penanganan segera sebelum muncul berbagai komplikasi. Kondisi invaginasi usus dapat menyebabkan obstruksi atau sumbatan pada sistem pencernaan dan menimbulkan gangguan aliran darah ke bagian usus yang terperangkap.

Penyebab

Penyebab invaginasi usus atau intususepsi seringkali tidak dapat diketahui dengan jelas. Namun ada beberapa hal yang dapat memicu terjadinya intususepsi, khususnya pada anak.

Ketika mengalami infeksi, baik virus maupun bakteri seringkali menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan, seperti pada kondisi gastroenteritis. Ketika terjadi peradangan, maka pada lokasi tersebut akan lebih berisiko mengalami invaginasi.

Saat terjadi peradangan, akan terdapat penebalan dinding usus dan seringkali disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening. Kondisi ini mempengaruhi struktur dinding usus dan meningkatkan risiko invaginasi pada area tersebut.

Selain itu, pada kelainan bawaan atau genetik yang mempengaruhi struktur saluran pencernaan dapat juga meningkatkan risiko seseorang mengalami invaginasi usus atau intususepsi.

Tidak hanya sering ditemukan pada anak, kondisi intususepsi juga dapat ditemukan pada dewasa. Orang dewasa yang memiliki polip atau tumor pada saluran pencernaan khususnya usus dapat mempengaruhi struktur dinding usus. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko invaginasi usus.

Pada orang dengan riwayat operasi, khususnya pada saluran cerna akan membentuk jaringan parut pasca tindakan. Ketika adanya jaringan parut maupun adesi atau perlengketan pada saluran cerna akan meningkatkan risiko intususepsi.

Gejala

Invaginasi usus atau intususepsi merupakan kondisi gawat darurat medis. Oleh karena itu, gejala yang muncul akan bersifat akut dan sangat mengganggu aktivitas. Penting untuk mengetahui gejala khas intususepsi agar dapat memperoleh penanganan segera sebelum terjadi komplikasi yang tidak diinginkan.

Keluhan yang seringkali ditemukan pada kasus invaginasi usus adalah nyeri perut hebat dan terjadi secara mendadak. Pada anak yang cenderung sulit untuk menyampaikan keluhan, bentuk gejala yang harus diperhatikan adalah menangis keras dan cenderung menarik kaki ke arah dada dan terlihat sangat tidak nyaman.

Pada kondisi tertentu, bisa juga teraba masa atau benjolan pada area perut. Masa dapat berbentuk seperti sosis karena adanya bagian usus yang terlipat masuk ke dalam bagian usus lain.

Ketika mengalami intususepsi dapat juga disertai dengan keluhan muntah. Pada awal muntah, yang keluar adalah sisa makanan yang sempat dikonsumsi sebelumnya. Namun jika sudah habis, biasanya dapat keluar cairan berwarna hijau atau kuning.

Gejala khas yang dapat ditemukan pada kondisi invaginasi usus adalah darah dalam tinja. Berbeda dengan disentri yang biasanya ditemukan feses disertai darah, kondisi intususepsi bisa saja tidak ditemukan feses namun hanya darah pada saat BAB.

Karakteristik darah yang keluar saat BAB pada kondisi invaginasi usus adalah berlendir dan berwarna merah darah. Seringkali disebut juga seperti jeli stroberi. Ketika terlihat tanda ini, sangat penting untuk evaluasi lebih lanjut dengan dokter untuk dapat memastikannya.

Karena adanya keluhan nyeri perut hebat, ketika mengalami intususepsi seringkali anak terlihat lesu dan sangat lelah. Dapat juga ditemukan demam, khususnya ketika terdapat infeksi.

Faktor Risiko

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami intususepsi. Invaginasi usus lebih sering terjadi pada anak, khususnya pada usia 6 bulan hingga 3 tahun.

Berdasarkan penelitian, anak laki-laki relatif lebih rentan mengalami intususepsi dibandingkan dengan anak perempuan. Perbandingan antara keduanya sekitar 3:1. Namun hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Riwayat keluarga dengan keluhan serupa dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami invaginasi usus. Oleh karena itu, ketika ada riwayat keluarga dengan intususepsi, penting untuk memperhatikan keluhan anak, khususnya pada saat usia yang lebih rentan mengalaminya.

Infeksi merupakan salah satu penyebab peradangan pada saluran cerna sehingga akan lebih rentan mengalami invaginasi usus. Penting untuk memperhatikan tanda dan gejala yang dialami oleh anak, khususnya ketika sedang mengalami gastroenteritis, baik karena infeksi virus maupun bakteri.

Pada kondisi kelainan bawaan atau faktor genetik yang mempengaruhi struktur usus, sangat penting untuk memperhatikan tanda dan gejala pada anak. Anak dengan riwayat kelainan strukturr usus akan lebih rentan mengalami intususepsi.

Tidak hanya pada anak, pada orang dewasa dengan riwayat tindakan operasi saluran cerna juga perlu dilakukan evaluasi pasca operasi. Ketika ditemukan jaringan parut atau perlengketan, sangat penting dilakukan follow up berkala untuk dapat menilai apakah ada tanda intususepsi atau tidak.

Diagnosis

Anamnesis

Dikarenakan invaginasi usus seringkali ditemukan pada anak, maka wawancara medis atau anamnesis secara alloanamnesis melalui orang tua atau yang sering berada di dekat anak. Sedangkan untuk kondisi yang terjadi pada dewasa, dokter akan melakukan wawancara medis secara autoanamnesis.

Upaya ini sangat penting dilakukan untuk dapat membantu menegakkan diagnosis intususepsi. Dokter akan mencari tahu secara detail terkait keluhan yang dialami, khususnya yang cukup khas untuk menegakkan diagnosis invaginasi usus.

Durasi terkait gejala yang dialami biasanya akan bersifat akut atau terjadi secara mendadak dan sangat mengganggu aktivitas. Gejala yang cukup sering ditemukan pada kasus invaginasi usus adalah nyeri perut hebat yang dapat disertai dengan muntah.

Tanda lain yang dapat ditemukan pada invaginasi usus adalah diare disertai dengan darah. Hal ini perlu digali lebih dalam untuk dapat membantu menegakkan diagnosis intususepsi dan membantu menyingkirkan diagnosis lain dengan keluhan serupa seperti pada disentri.

Kondisi ini dapat juga disertai dengan keluhan demam jika terdapat infeksi. Selain itu, karena adanya nyeri perut yang mengganggu maka orang dengan intususepsi akan cenderung lebih mudah lelah dan lemas.

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik dokter akan melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dari tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan dan suhu tubuh. Karena adanya keluhan nyeri perut yang bersidat akut, biasanya akan disertai dengan peningkatan tekanan darah, denyut jantung hingga laju pernapasan. Dengan kondisi yang disertai dengan infeksi maka dapat juga ditemukan peningkatan suhu tubuh.

Pada pemeriksaan area abdomen atau perut dapat juga teraba masa atau benjolan yang terbentuk karena adanya bagian usus yang terlipat dan masuk ke dalam bagian usus lain. Meskipun tidak selalu dapat ditemukan, namun dalam pemeriksaan dapat juga teraba masa seperti sosis.

Selain itu, dapat ditemukan tanda-tanda obstruksi usus yang disertai dengan gangguan peristaltik usus. Pada fase awal persitaltik dapat meningkat karena berusaha untuk mendorong agar pergerakan usus tetap normal. Namun jika sudah terjadi penurunan aliran darah pada area tersebut, peristaltik usus dapat mengalami penurunan.

Pemeriksaan Penunjang

Dokter dapat menyarankan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk membantu menegakkan diagnosis dan untuk mengetahui tatalaksana yang tepat dan sesuai untuk kondisi invaginasi usus yang dialami.

Pemeriksaan laboratorium darah dapat dilakukan, khususnya jika terdapat kecurigaan adanya tanda-tanda infeksi. Dapat ditemukan peningkatan sel darah putih atau leukosit pada kasus dengan infeksi bakteri.

Dapat juga dilakukan pemeriksaan feses untuk dapat menilai lebih dalam terkait kondisi saat ini. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk memastikan adanya BAB disertai darah dan menilai apakah ada peran infeksi bakteri seperti pada kasus disentri.

Pemeriksaan imaging biasanya juga dapat dilakukan pada kasus invaginasi usus. Dokter dapat menyarankan pemeriksaan ultrasonografi atau USG abdomen. Dari pemeriksaan ini dapat ditemukan donut sign atau target sign karena adanya bagian usus yang terlipat.

Dari pemeriksaan rontgen dapat juga ditemukan gas dan pembesaran bagian tertentu dari usus karena adanya sumbatan. Tanda ini khas dan dapat ditemukan pada kondisi obstruksi usus.

Bila diperlukan, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan CT scan atau MRI. Namun pemeriksaan ini tidak selalu dilakukan dan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasien dan tujuan pemeriksaan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk membantu menyingkirkan diagnosis lain seperti pada kondisi tumor.

Terapi

Setelah penegakan diagnosis, sangat penting untuk segera melakukan tatalaksana agar dapat menghindari berbagai risiko komplikasi seperti nekrosis usus hingga peritonitis yang dapat mengancam nyawa.

Terapi yang dapat diberikan adalah enema udara atau barium. Dengan upaya enema udara, maka udara yang dimasukkan melalui rektum bertujuan untuk membantu melepaskan usus yang terlipat.

Sedangkan untuk enema barium yang dimasukkan merupakan cairan barium melalui rektum. Upaya ini juga dilakukan dengan tujuan untuk membantu melepaskan invaginasi usus sebelum terjadi nekrosis dan komplikasi lain.

Jika tindakan enema tidak memberikan hasil yang optimal, maka dokter dapat mempertimbangkan tatalaksana lain seperti upaya pembedahan. Upaya ini bertujuan untuk melepaskan usus yang terlipat sebelum mengalami nekrosis.

Namun jika nekrosis sudah terjadi, agar tidak mengalami komplikasi akan dilakukan reseksi usus dengan mengangkat bagian usus tersebut dan menghubungkan usus yang masih sehat.

Selain mengatasi invaginasi usus, tatalaksana secara holistik terkait keluhan yang dialami juga tetap dilakukan dari persiapan operasi hingga pasca operasi. Pasien akan sebisa mungkin dibuat stabil sebelum hingga pasca tindakan.

Pencegahan

Upaya pencegahan dapat diperhatikan dari penyebab utama yang menimbulkan invaginasi usus. Namun karena seringkali tidak disertai dengan sebab yang jelas, maka kunci penting berada di pemantauan terhadap tanda dan gejala intususepsi yang mungkin ditemukan.

Jika terdapat faktor risiko berupa infeksi pada saluran cerna, polip atau tumor saluran cerna hingga riwayat operasi saluran cerna, maka pemantauan terhadap gejala khas invaginasi usus harus lebih ketat.

Dengan kesadaran dini, maka penegakan diagnosis dan tatalaksana akan lebih cepat dan optimal sehingga risiko komplikasi dapat dihindari.

Komplikasi

Ketika terjadi invaginasi usus maka pergerakan usus akan tidak optimal karena adanya obstruksi atau sumbatan pada saluran cerna. Jika berlangsung cukup lama akan menimbulkan gejala obstruksi saluran cerna dari kembung hingga nyeri perut hebat.

Jika obstruksi terus berlangsung maka aliran darah pada area usus yang terlipat akan menurun sehingga dapat mengalami nekrosis atau mati. Kondisi ini dapat menyebabkan perforasi atau kebocoran usus yang memicu peradangan dan infeksi hebat hingga peritonitis.

Jika tidak segera ditangani maka dapat terjadi sepsis yaitu terjadi perluasan infeksi yang menyebar melalui aliran darah. Hal ini dapat berkembang semakin berat hingga menyebabkan syok dan mengancam nyawa.

Kapan Harus ke Dokter?

Invaginasi usus bisa terjadi tanpa sebab yang jelas. Oleh karena itu, ketika memiliki faktor risiko tertentu yang membuat Anda lebih rentan mengalami intususepsi, sangat penting untuk memperhatikan tanda dan gejala yang dialami atau dikeluhkan.

Jika sudah disertai dengan gejala khas, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan diri ke dokter. Bahkan ketika gejala bersifat akut, dapat dikategorikan dalam kondisi darurat medis dan membutuhkan penanganan segera sebelum terjadi komplikasi hingga mengancam nyawa.

 

Ditulis oleh dr. Valda Garcia
Ditinjau oleh dr. Ernest Eugene

Share This Article: