RS Bunda Group

Berita & Artikel

Radang Usus Buntu, Ini Penyebab, Gejala, dan Kapan Harus Ke Dokter

  • Beranda
  • Radang Usus Buntu, Ini Penyebab, Gejala, dan Kapan Harus Ke Dokter
dokter sedang menjelaskan radang usus buntuk dan cara mengatasinya

Radang usus buntu merupakan salah satu jenis penyakit di bidang bedah yang cukup sering dijumpai adalah radang usus buntu atau apendisitis. Mari kita bahas lebih lanjut terkait penyebab dan cara penanganan sebelum terjadi komplikasi yang bisa mengancam nyawa.

Usus buntu adalah kantung kecil yang berada di bagian ujung sekum. Usus buntu secara tidak langsung berada di perbatasan antara usus halus dengan usus besar. Karena lokasinya di bagian tepi dan tidak menyambungkan dua bagian saluran pencernaan, seringkali disebut dengan “usus buntu”. 

Meskipun bentuknya kecil, namun dalam usus buntu terdapat banyak kelenjar getah bening yang memiliki peranan penting untuk melawan infeksi dan peradangan.  

Bahasa ilmiah dari usus buntu adalah apendiks. Ketika usus buntu mengalami peradangan dapat disebut dengan apendisitis. Berdasarkan waktu proses perjalanan penyakit serta gejalanya, apendisitis dapat terbagi menjadi kondisi akut dan kronis. 

Penyebab 

Kondisi peradangan pada usus buntu bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti sumbatan pada apendiks karena adanya kotoran atau feses yang mengeras. Hal ini dapat terjadi pada orang yang sering mengalami konstipasi atau sulit BAB sehingga terjadi penumpukan feses hingga mengeras. 

Pada area usus buntu juga terdapat kelenjar limfe atau getah bening. Jika terjadi peradangan pada kelenjar tersebut, bisa menimbulkan pembengkakan hingga peradangan pada usus buntu. 

Selain itu, kondisi peradangan pada usus buntu bisa juga disebabkan oleh kondisi infeksi. Infeksi ini bisa berasal dari dalam saluran cerna sehingga bisa menyebabkan peradangan secara langsung, namun bisa juga dari bagian tubuh lain. 

Jika ada peradangan pada organ di sekitar usus buntu kemudian mengalami perluasan kondisi infeksi, bisa saja menimbulkan keluhan apendisitis. Kondisi yang sering dijumpai adalah peradangan pada ovarium yang lokasinya dekat dengan usus buntu, ketika mengalami komplikasi bisa menyebabkan apendisitis. 

Gejala 

Ketika seseorang mengalami peradangan pada usus buntu, sesuai lokasinya, sering kali mengalami keluhan berupa nyeri perut sisi kanan bawah. Karena adanya peradangan, biasanya disertai dengan keluhan demam dan tidak jarang disertai dengan mual muntah. 

Pada kondisi akut, biasanya keluhan nyeri akan semakin berat ketika berjalan, batuk atau membungkukkan badan. Sedangkan pada kondisi kronis, biasanya keluhan nyeri masih dapat ditahan dan seringkali hilang timbul.  

Kondisi apendisitis kronis bisa disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sumbatan sebagian atau parsial. Karena tidak menyumbat total, kondisi peradangan yang terjadi juga tidak terlalu cepat sehingga gejala yang dialami juga tidak terlalu terasa. 

Jika mengalami keluhan serupa dan tidak kunjung baik, sangat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan diri ke dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan secara langsung dan penanganan segera. Pada kondisi apendisitis akut yang tidak ditangani dengan segera bisa menimbulkan komplikasi seperti pecahnya usus buntu sehingga menyebabkan penyebaran peradangan, infeksi hingga dapat mengancam nyawa.  

Faktor Risiko 

Faktor risiko terjadinya kasus usus buntu sangat bervariasi berdasarkan penyebab utama terjadinya apendisitis. Jika penyebab utamanya adalah sumbatan oleh fecalith atau feses yang mengeras hingga menyumbat, maka sangat penting untuk menghindari terjadinya konstipasi. 

Pada kondisi ini, faktor risikonya adalah kurangnya konsumsi makanan berserat seperti dari sayur dan buah. Selain itu, sangat penting untuk konsumsi air putih yang cukup untuk membantu metabolisme tubuh dengan baik. Rutin berolahraga juga dapat membantu memperlancar metabolisme dan sistem pencernaan.   

Jika apendisitis disebabkan oleh adanya peradangan pada kelenjar getah bening atau limfe, harus diketahui terlebih dahulu penyebabnya seperti apakah ada infeksi lain yang sedang terjadi pada tubuh. 

Perlu diperhatikan juga apakah ada infeksi lain yang terjadi di sekitar area usus buntu, untuk memastikan apakah kondisi peradangan berasal dari dalam saluran pencernaan atau berasal dari organ lain di sekitarnya. 

Karena lokasinya cukup dekat dengan organ reproduksi, perlu diperhatikan apakah ada faktor risiko lain pada area reproduksi yang bisa mengalami infeksi dan meluas hingga ke saluran pencernaan, khususnya area usus buntu.  

Seperti yang telah dijelaskan, selain lokasinya yang berdekatan, pada usus buntu juga terdapat kelenjar getah bening atau limfe yang berperan untuk melawan ketika terjadi peradangan atau infeksi pada tubuh. Oleh karena itu, usus buntu rentan mengalami peradangan.  

Diagnosis 

Anamnesis 

Untuk dapat menegakkan diagnosis apendisitis, sangat penting untuk melakukan wawancara medis atau anamnesis terkait keluhan dan gejala yang dialami. Gejala khas seperti nyeri perut kanan bawah yang disertai demam, mual dan muntah harus diwaspadai ketika memiliki kecurigaan ke arah radang usus buntu.  

Durasi gejala yang dialami juga sangat penting untuk dapat menentukan apakah kecurigaan apendisitis ini ke arah akut atau kronis. Dengan mengetahuinya, maka tindakan lebih lanjut yang dapat dilakukan dapat lebih jelas, apakah harus dilakukan tindakan operasi secara segera atau masih dapat ditunda.  

Karakteristik nyeri yang dialami juga penting untuk ditanyakan sehingga dapat dinilai apakah kondisi yang dialami apakah cenderung ke arah akut atau kronis. Kondisi akut biasanya disertai dengan keluhan nyeri terus menerus, sedangkan kondisi kronis bisa dialami hilang timbul. 

Penting juga untuk mengetahui apakah ada faktor yang memperberat atau meredakan nyeri. Pada kondisi apendisitis akut, biasanya keluhan nyeri diperberat dengan kegiatan yang dapat meningkatkan tekanan pada area perut seperti batuk, membungkuk atau berjalan. 

Pada kondisi akut, biasanya konsumsi obat pereda nyeri yang dapat dibeli secara bebas tidak dapat membantu meredakan nyeri secara signifikan. Sedangkan pada kondisi kronis, mungkin keluhan nyeri perut kanan bawah yang dialami bisa mereda dengan konsumsi obat. 

Perlu juga ditanyakan apakah keluhan nyeri yang dialami dari awal berasal dari lokasi yang sama yaitu perut kanan bawah, atau sebelumnya berasal dari area lain. Atau mungkin sebaliknya, apakah nyeri perut kanan bawah menyebar ke area tubuh lain.  

Hal ini penting untuk dapat membantu mengetahui apakah penyebab utama keluhan memang dari usus buntu, dari organ lain kemudian menyebar hingga ke usus buntu atau bahkan dari usus buntu yang peradangan dan infeksinya menyebar ke organ lain di sekitarnya.  

Selain itu, intensitas nyeri juga dapat membantu memutuskan apakah perlu dilakukan tindakan operatif segera. Jika nyeri tidak tertahan, maka cenderung ke arah apendisitis akut dan membutuhkan tindakan operasi segera sebelum terjadi komplikasi. 

Pemeriksaan Fisik 

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai apakah benar diagnosis yang akan ditegakkan adalah apendisitis. Pemeriksaan rutin yang pasti diperiksa adalah pemeriksaan tanda-tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi, laju pernapasan dan suhu tubuh. 

Ketika mengalami nyeri, reaksi tubuh biasanya akan menimbulakan peningkatan tekanan darah. Pada kondisi apendisitis akut yang sudah mengalami komplikasi bisa disertai dengan penurunan tekanan darah karena adanya shock sehingga harus ditangani dengan segera agar tetap stabil.  

Pemeriksaan denyut nadi dan laju pernapasan pada apendisitis akut biasanya cenderung meningkat. Suhu tubuh juga biasanya akan meningkat karena adanya proses peradangan dan tidak jarang juga disertai dengan adanya infeksi. Sedangkan pada kasus apendisitis kronis, bisa saja pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan hasil yang normal. 

Ada beberapa pemeriksaan khas yang hasilnya akan positif jika dilakukan pada pasien dengan radang usus buntu. Biasanya akan dilakukan pemeriksaan nyeri tekan pada area perut kanan bawah di mana merupakan lokasi dari usus buntu. Selain itu juga akan dilakukan pemeriksaan dengan menekuk bagian lutut kanan dan mendorong ke arah perut untuk melihat apakah nyeri semakin berat ketika dilakukan pemeriksaan tersebut. 

Pemeriksaan lain juga dapat dilakukan dengan membaringkan ke sisi kiri, kemudian menarik kaki kanan ke area belakang tubuh dan menilai apakah nyeri yang dialami juga semakin berat.  

Dapat juga dilakukan pemeriksaan rebound tenderness atau nyeri lepas, ketika melakukan penekanan pada area perut kanan bawah dan melepaskannya, apakah ada keluhan nyeri yang dirasakan.  

Pemeriksaan Penunjang 

Selain pemeriksaan utama seperti anamnesis dan pemeriksaan fisik, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang. Salah satu pemeriksaan yang akan dilakukan adalah pemeriksaan darah. Pada pemeriksaan ini, biasanya akan ditemukan peningkatan sel darah putih karena adanya peradangan dan infeksi pada usus buntu. 

Pada wanita yang aktif berhubungan seksual dan mengalami keluhan nyeri perut kanan bawah, tidak jarang dilakukan juga pemeriksaan urin untuk menilai apakah ada kemungkinan kehamilan di luar rahim atau pada area tuba falopi yang lokasinya dekat dengan usus buntu.  

Hal ini dapat dilakukan untuk membantu menyingkirkan kemungkinan diagnosis banding atau diagnosis lain yang keluhannya serupa agar semakin yakin akan tindakan lebih lanjut yang akan dilakukan. 

Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan adalah USG Abdomen. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk dapat memastikan penyebab keluhan nyeri perut kanan bawah yang dialami. Apakah benar karena adanya radang usus buntu atau karena hal lain. 

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah CT Scan Abdomen. Pemeriksaan ini tidak wajib untuk dilakukan dalam menegakkan diagnosis apendisitis, namun dapat dilakukan jika dokter spesialis bedah yang menangani merasa membutuhkannya. 

Pemeriksaan ini seringkali dilakukan pada kasus nyeri perut kanan bawah dalam jangka waktu yang cukup panjang namun gejala yang dialami tidak khas untuk kasus apendisitis. Biasanya bisa terjadi pada kasus apendisitis kronis. 

Terapi 

Pengobatan pada kasus radang usus buntu biasanya disesuaikan dengan keluhan yang dialami. Untuk keluhan nyeri, akan diberikan pereda nyeri sehingga akan lebih nyaman ketika dilakukan pemeriksaan lanjutan.  

Namun pemberian anti nyeri sebaiknya diberikan setelah melakukan pemeriksaan awal karena jika sebelumnya, akan menimbulkan hasil pemeriksaan yang bias dan mempersulit penegakan diagnosis.  

Misalnya pada kasus apendisisis seharusnya terdapat nyeri tekan, tapi karena sudah konsumsi obat pereda nyeri, hasil pemeriksaan menjadi negatif. Sangat disarankan untuk memberi tahu kepada pihak pemeriksa obat apa saja yang sudah dikonsumsi sebelumnya. 

Pada kondisi demam, akan diberikan anti piretik untuk membantu meredakan atau menurunkan demam. Pada kondisi mual muntah akan diberikan anti emetik untuk mengatasi keluhan. Jika dibutuhkan, dapat juga diberikan antibiotik untuk dapat membantu mengatasi infeksi yang sedang terjadi. 

Kondisi radang usus buntu biasanya tidak dapat diatasi dengan hanya pemberian obat. Biasanya harus dilakukan tindakan operatif. Namun urgensinya sangat bergantung pada kondisi yang dialami, tergolong dalam apendisitis akut atau kronis. 

Pada kondisi apendisitis akut biasanya harus segera dilakukan tindakan operasi. Sedangkan pada kasus apendisitis kronis, operasi dapat ditunda namun harus tetap dalam pantauan dokter dan rutin dilakukan pemeriksaan. Namun hal ini kembali lagi pada kondisi setiap kasus dan pertimbangan dokter spesialis bedah yang menangani. 

Terdapat banyak jenis metode operasi yang dapat dilakukan. Pada kasus radang usus buntu fase awal, biasanya bisa dilakukan tindakan operasi dengan metode laparoskopi. Dengan metode ini, sayatan akan lebih kecil dan masa pemulihannya akan lebih cepat.  

Metode lain yang dapat dilakukan adalah dengan open apendektomi. Biasanya metode ini dilakukan pada kasus yang sudah tidak dapat diatasi dengan tindakan laparoskopi saja karena harus memastikan area di sekitar apendiks apakah sudah bersih dari tanda-tanda infeksi atau belum. 

Sedangkan pada kondisi kantong usus buntu yang sudah pecah hingga menimbulkan perluasan infeksi hingga peritonitis, biasanya akan dilakukan tindakan laparotomi. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar dapat mengatasi kondisi infeksi agar tidak menimbulkan komplikasi lain.  

Namun kembali lagi, untuk memutuskan metode yang tepat harus dilihat kondisi pasien sehingga dokter spesialis bedah bisa menentukannya setelah melalui berbagai pertimbangan.  

Pencegahan 

Pencegahan radang usus buntu kembali lagi dengan menghindari berbagai faktor risiko yang mungkin dimiliki. Sangat penting untuk menjaga metabolisme sistem pencernaan dengan konsumsi makanan gizi seimbang, khususnya yang tinggi serat, konsumsi cukup air dan rutin berolahraga. 

Tidak hanya memperhatikan sistem pencernaan, organ lain di sekitarnya juga dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya usus buntu. Sangat penting untuk menjaga sistem reproduksi agar tidak mengalami proses peradangan atau infeksi yang dapat meningkatkan risiko perluasan infeksi hingga ke area usus buntu. 

Sangat disarankan juga untuk melakukan pemeriksaan medical check up secara rutin sehingga bisa dilakukan screening sebelum terjadinya penyakit dan berbagai komplikasinya. 

Komplikasi 

Kondisi radang usus buntu yang sering menimbulkan komplikasi adalah apendisitis akut. Karena kondisinya akut, sangat membutuhkan penanganan segera. Jika terlambat, usus buntu bisa pecah hingga infeksinya meluas dan tidak jarang menimbulkan sepsis hingga meningkatkan risiko kematian. 

Ketika kantong usus buntu pecah, sel radang di dalamnya bisa keluar hingga menyebabkan peradangan pada area sekitarnya yang disebut dengan peritonitis. Ketika terjadi peritonitis, gejala khas yang sering ditemukan adalah perut papan. Kondisi perut yang biasanya lembut ketika ditekan akan terasa keras seperti papan. 

Tidak hanya penyebabnya bisa berasal dari organ lain, usus buntu juga dapat menimbulkan komplikasi berupa peradangan yang menyebar ke organ sekitarnya, seperti sistem reproduksi, khususnya ovarium yang lokasinya berdekatan dengan usus buntu. 

Pada beberapa kasus usus buntu yang mengalami peradangan dan terlambat dilakukan tindakan operasi, menimbulkan peradangan pada sistem reproduksi hingga menimbulkan komplikasi seperti harus diangkatnya indung telur atau ovarium ketika dilakukan tindakan pengangkatan usus buntu. 

Selain itu, ketika kondisi apendisitis akut tidak ditangani dengan baik juga dapat menyebabkan infeksi yang meluas melalui sirkulasi darah yang disebut dengan sepsis. Kondisi ini jika tidak segera diatasi bisa menimbulkan sepsis berat, shock hingga kematian. 

Kapan Harus ke Dokter? 

Ketika sudah mengalami keluhan yang khas ke arah radang usus buntu, seperti nyeri perut kanan bawah, demam, mual, muntah, terlebih jika keluhan nyeri tidak tertahan, sangat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan diri ke dokter.  

Jika diperlukan dan hasil pemeriksaan ke arah apendisitis, maka akan dilakukan rujukan ke dokter spesialis bedah untuk pemeriksaan lebih lanjut dan terapi hingga tindakan yang sesuai. 

Bagikan Artikel Ini: